Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Selasa, 25 Desember 2018

TASBIH UNTUK BERDZIKIR

Dahulu mereka bertasbih dan menghitungnya dengan jari jemarinya sebagaimana dalam hadits,
ﻭَﺃَﻥْ ﻳَﻌْﻘِﺪْﻥَ ﺑِﺎﻷَﻧَﺎﻣِﻞِ ﻓَﺈِﻧَّﻬُﻦَّ ﻣَﺴْﺌُﻮﻻَﺕٌ ﻣُﺴْﺘَﻨْﻄَﻘَﺎﺕٌ .
"Dan hitunglah dengan jari jemari, karena sesungguhnya (jari-jemari itu) akan ditanya dan akan berbicara." (HR. Abu Daud dan Tirmizi)
bahan yang sangat bagus dijadikan Tasbeh di antaranya: Marjan, Oud Shalib, Yuser, Unnab, Kayu Zaitun, Batu Yaqut, Kauka, Batok Kelapa, Tulang Ikan Marlin, Gahru, Cendana, Kantil layu (orang Betawi menyebutnya Itil Layu) dan lain-lain. Untuk Kayu Unnab menjadi siar dzikir para ulama wilayah Afrika khususnya Maroko, mesir dan Tunisia. Disebutkan dalam kitab as-Subhah Wa Masyruiyyatuha:
ﻣﻦ ﺃﺭﺍﺩ ﺍﻟﻔﺘﺢ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺑﺎﻟﻌﻨﺎﺏ ﻭﻣﻦ ﺃﺭﺍﺩ ﺍﻟﻐﻨﺎ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺑﺎﻟﻴﺴﺮ
Artinya; Siapa yang ingin cepat mendapatkan Futuh hendaknya berdzikir dengan menggunakan Tasbeh Unnab. Bila ingin menjadi orang kaya gunakan Tasbeh Yuser.”
Sampai Sayidi Syekh Ahmad Bin Muhammad at-Tijaniy Radhiyallahu Anhu menggunaka Tasbih dari jenis Yuser dan Unnab yang memang menjadi kebanggan para penempuh jalan Allah Taala di kalangan wali-wali Quthb.
Adapun jalur transmisi yang disebut dengan Musalsal Bi Munawalah Subhah (Sanad menggunakan Tasbeh) al-Faqir riwayatkan ijazahnya sanadnya sebagai berikut:
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﺝ ﺭﺯﻗﻲ ﺫﻭ ﺍﻟﻘﺮﻧﻴﻦ ﺍﻟﺒﺘﺎﻭﻱ ﻧﺎﻭﻟﻨﻲ ﻓﻀﻴﻠﺔ ﺍﻟﺪﻛﺘﻮﺭ ﻳﻮﺳﻒ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﻤﺮﻋﺸﻠﻲ ، ﻭﻛﻴﺎﻫﻲ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺯﺍﻕ ﺍﻣﺎﻡ ﺧﻠﻴﻞ ﺍﻟﺠﺎﻭﻱ ، ﻭﻛﻴﺎﻫﻲ ﺃﺣﻤﺪ ﻣﺮﻭﺯﻱ ﺍﻟﺒﺘﺎﻭﻱ ﺳﺒﺤﺘﻬﻢ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻧﺎﻭﻟﻨﻲ ﺷﻴﺨﻨﺎ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﻟﻤﺴﻨﺪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﺤﻤﺪ ﻳﺎﺳﻴﻦ ﺍﻟﻔﺎﺩﺍﻧﻲ ﻗﺎﻝ ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﺤﻤﺪ ﻋﻠﻲ ﻳﻦ ﺣﺴﻴﻦ ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻲ ﻭ
Imam Ibn Abu Thayyib mengutip pendapat Abul Abbas ar-Raddad yang mengatakan: Telah jelas dari ucapan Imam Hasan al-Bashriy radhiyallahu anhu bahwa menggunakan Tasbeh sudah ada di zaman para shahabat Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam. Sebagaimana di ketahui tanpa ada yang meragukan Kridebelitas Imam Hasan Bashriy yang merupakan seorang Tabiin yang bertemu banyak para shahabat. Beliau dilahirkan saat Sayyidina Umar Bin Khattab radhiyallahu anhu 2 tahun menjadi khalifah. Sanad Khirqah, Subhah beliau dapatkan dari Sayyidina Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu.
Berdzikir dengan menggunaka Subhah memiliki multi fungsi, selain dijadikan pengingat berdzikir dengan jumlah yang tepat juga sebagai terapi dengan senam jari. Memutar tasbeh dengan Jempol (ibu Jari) memiliki manfaat besar, karena menjadi titik refleksi yang berhubungan dengan paru-paru dan saluran pernafasan. Bila dipijat terasa sakit berarti si penderita terkena flu, asma, infeksi saluran dan lain-lain. Bila ibu jari kanan yang sakit, berarti organ pernafasan yang kanan sedang sakit. Begitu pula sebaliknya.
Betapa Indahnya berdzikir dengan Tasbeh, seorang penyair mengatakan dalam gubahan syairnya:
ﻭﺳﺒﺤﺔ ﺃﻧﺎﻣﻠﻲ ﻗﺪ ﺷﻐﻔﺖ ﺑﺤﺒﻬﺎ ** ﻣﺜﻞ ﻣﻨﺎﻗﻴﺮ ﻏﺪﺕ ﻣﻠﺘﻘﻄﺎﺕ ﺣﺒﻬﺎ
Tasbeh yang aku puter dengan jari-jariku telah membuat aku jatuh cinta. Jari-jari tersebut bagai cocot (paruh) burung yang sedang mematuk biji-bijian.
Tasbeh Yuser Dan Unnab
Yuser adalah nama tumbuhan yang batangnya berwarna hitam dan harum baunya. Yuser biasanya tumbuh di dasar laut dan yang paling berkualitas tumbuh di laut merah. Yuser banyak digunakan sebagai Subhah (tasbeh) dan bahkan ia termasuk salah satu jenis tasbeh yang paling bagus dan utama. Oleh karenanya Sayidi Syekh Ahmad Tijani Radhiyallahu Anhu memilih tasbeh Yuser dalam melakukan wirid baik Lazimah, wazhifah dan lainnya. Dalam kitab Syamailut Tijaniyah disebutkan, Tasbeh Yuser yang beliau gunakan tidak dipatri dengan perak atau lainnya sebagaimana umumnya dilakukan oleh orang-orang yang hobi mengutamakan penampilan zhohir.
Sebagian ahli ma'rifah memuji tasbeh yuser dalam syairnya:
ﻫﻮ ﺍﻟﻴﺴﺮ ﺇﻥ ﺃﺭﺩﺕ ﻋﺰﺍ ﻭﺭﺍﺣﺔ * ﻭﻛﻨﺰﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻴﺮﺍﺕ ﻻ ﻳﺘﺒﺪﺩ
ﺟﻠﻴﻞ ﻣﺤﺒﺐ ﻟــــﺪﺍ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻛﻠﻬﻢ * ﻭﻟﻮﻧﻪ ﺻﺎﻑ ﺫﻭ ﻧﻈﺎﺭﺓ ﺃﺳﻮﺩ
ﻳﻔﻮﺡ ﺑﻌﻄﺮ ﺍﻟﻤﺴﻚ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺳﺎﻋﺔ * ﻟﺘﻌﻠﻢ ﺑﺎﻟﻴﻘﻴﻦ ﺃﻧﻪ ﺍﻷﺟــــــــــﻮﺩ
ﻭﻳﻜﻔﻲ ﺍﻓﺘﺨﺎﺭﺍ ﺃﻧﻬﺎ ﺍﻟﺴﺒﺤﺔ ﺍﻟﺘﻲ * ﺑﻬﺎ ﻳﺬﻛﺮ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﺘﺠﺎﻧﻲ ﺃﺣﻤﺪ
Artinya: Jika engkau ingin mendapatkan kemuliaan, kesenangan dan gudang kebaikan yang tak pernah habis, maka gunakanlah tasbeh Yuser. Berwibawa, disukai banyak orang. Warnanya hitam Indah bila dilihat. Menebarkan aroma misk setiap saat, agar diketahui dengan yaqin ia memiliki nilai yang sangat bagus. Cukuplah sebagai kebanggaan, sesungguhnya Yuser merupakan tasbeh yang selalu digunakan Sayidi Syekh Ahmad Tijani dalam berdzikir.
Seorang ulama kharismatik al-Imam al-Qadhi Ahmad Sukairij Radhiyallahu Anhu menyebutkan paling tidak ada dua alasan Sayidi Syekh Ahmad Tijani memilih tasbeh Yusser. Pertama: kayu Yuser memiliki bentuk indah dan aroma wangi yang bagus. sebagaimana dzikir itu sendiri merupakan sesuatu yang bagus dan indah, maka karenanya beliau memilih sesuatu yang indah dan bagus untuk berdzikir. Kedua: Adanya al-Fa'lul Hasan (alamat kebaikan) sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyukai al-Fa'lul Hasan.
Kata "Yusr" dalam bahasa arab bisa diartikan "kemudahan atau kekayaan". Seseorang yang menggunakan tasbeh yuser berharap mendapat alamat kebaikan. Istilah Yusr diambil dari firman Allah Taala:
ﺍﻥ ﻣﻊ ﺍﻟﻌﺴﺮ ﻳﺴﺮﺍ
Hanya sanya di setiap usr (kesulitan) pasti ada yusr (kemudahan)."
Dicatatkan dalam kitab ittihaful Amajid Bi Nafaisil Fawaid karya Abu Munyah As-Sakunjiy jilid 2 halaman: 46 disebutkan bahwa; " Guru kami al-Allamah Syekh al-Hasan Bin Muhammad Habib al-Jakkaniy Hafizhahullah berkata: Yuser ada beberapa macam jenisnya, ada yang hitam dan ada juga yang berwarna hitam kekuning-kuningan. Dan yang paling mahal harganya adalah yang hitam kekuning-kuningan. Khusus yuser dari laut merah jika terkena sinar mata hari akan sangat tampak ster urat-urat berwarna emas.
Keutamaan tasbeh Yuser yang disebutkan oleh para ahli ruhani sebagai berikut;
@ Siapa saja yang berdzikir dengan yuser maka akan mendapat rohah (rileks)
@ Rumah yang di dalamnya terdapat yuser akan mendapat keberkahan dari Allah Taala.
@ Jika yuser dibawa ketika berikhtiar maka segala ikhtiarnya diberikan kemudahan.
@ Apabila yuser tersebut semakin lama digunakan berdzikir maka akan semakin zhohir banyak hal ajaib.
Selain memiliki khasiat yang luar biasa ada juga Mitos batil berkenaan dengan yuser:
1. Yuser merupakan makanan jin
2. Jika yuser yang kita punya tidak dipakai dzikir maka ia akan beranak mengeluarkan semacam biji.
Adapun Unnab adalah nama pohon yang warna batangnya seperti pohon zaitun berwarna agak kemerah-merahan dan enak dipandang. Tasbeh Unnab banyak digunakan oleh para ulama Tunis dalam berdzikir.
Kesalahan yang sangat patal sekali bila ada orang yang mengatakan unnab adalah kayu dari batang pohon anggur. Kalau pohon anggur itu adalah inab bukan unnab walaupun tulisan Arabnya sama (ﺍﻟﻌﻨﺎﺏ ).
Tahun 2011 sewaktu al-Faqir berziarah ke kota Fez Maroko pertama kali, alfaqir bertamya kepada Sayyid Zubair Bin Salim at-Tijaniy salah sati keturunan Sayyidi Syekh Ahmad Tijani Radhiyallahu Anhu tentang Unnab beliau menjelaskan bahwa unnab itu adalah galih (bagian dalam) batang pohon Zub.
Guru kami Sayid Abdul Karim Baqqasy al-Idrisiy al-Hasaniy Hafizhahullah pernah mengatakan:
ﻣﻦ ﺃﺭﺍﺩ ﺍﻟﻔﺘﺢ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺑﺎﻟﻌﻨﺎﺏ ، ﻭﻣﻦ ﺃﺭﺍﺩ ﺍﻟﻐﻨﻰ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺑﺎﻟﻴﺴﺮ
Artinya: "Siapa saja yang ingin cepat mendapat futuh, maka hendaknya ia berdzikir menggunakan tasbeh dari kayu unnab. Siapa saja yang ingin jadi orang kaya, maka hendaknya ia berdzikir menggunakan Tasbeh dari kayu Yuser.
Ketahuilah, manfaat dan keutamaan serta gula-gula tersebut bukan berasal dari kayu atau batu yang kita pakai berdzikir, melainkan Allah Taala memberikannya lantaran semata-mata keberkahan dari dzikir yang kita baca.
Imam Abu Muslim al-Khaulaniy Rahimahullah pada suatu malam pernah terheran-heran lantaran subhah (tasbeh) yang sering ia gunakan di tangannya tiba-tiba loncat ke bumi dan berputar-putar hingga mengeluarkan suara:
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻳَﺎ ﻣُﻨْﺒِﺖَ ﺍﻟﻨَّﺒَﺎﺕِ ﻭَﻳَﺎ ﺩَﺍﺋِﻢَ ﺍﻟﺜَّﺒَﺎﺕِ
Segala Puji Wahai yang menumbuhkan tumbuhan dan yang Maha menetapkan.
Melihat peristiwa tersebut, Abu Muslim berteriak memanggil istrinya, istrinya pun mendatangi beliau dan juga terperangah menyasikan kejadian tersebut. Ketika ia duduk, maka tasebeh itu berhenti berputar.
Tasbeh menjadi wasilah untuk mudawamah (konsisten) berdzikir, sebagaimana disinyalir oleh Sayyidina Ali Radhiyallahu anhu:
ﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻤُﺬَﻛِّﺮُ ﺍﻟﺴُّﺒْﺤَﺔُ
Sebaik-baik yang menjadi pengingat dzikir adalah Tasbeh.
Diriwayatkan ada seorang bermimpi ketemu seorang wali yang sedang berdzikir dengan menggunakan Subhah (Tasbeh). ia bertanya: Ya Syekh, kenapa kau berdzikir dengan menggunakan Tasbeh seolah-olah dirimu tidak ikhlas dan perhitungan kepada Allah Taala, padahal Allah tidak pernah perhitungan kepada hambaNya? Wali itu menjawab: Aku berdzikir dengan Tasbeh bukan berarti diriku perhitungan, justru seluruh bilangan dzikirku semua untuk Allah Taala lantaran dzikir-dzikir tersebut benar-benar tidak mampu aku hinggakannya dengan hitungan ruasan jari-jari tanganku.
Imam Ahmad Bin Baba al-Alawiy as-Sinqithiy radhiyallahu anhu dalam kitab Munyatul Murid menyebutkan:
ﻭﺍﺗﺨﺬ ﺍﻟﺴﺒﺤﺔ ﻟﻼﻋﺎﻧﺔ *** ﻭﻋﻤﻞ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺫﻱ ﺍﻟﺪﻳﺎﻧﺔ
Gunakanlah Tasbeh sebagai alat bantu yang tepat dalam bilangan dzikir dan mengikuti ulama ahli agama (Imam Junaid al-Baghdadiy).
Imam Muhammad an-Nazhifiy at-Tijaniy radhiyallahu anhu mengatakan: Jika berdzikir setelah shalat dengan membaca Subhanallah 33, Alhamdulillah 33 dan Allahu Akbar 33, maka lebih afdhal menggunakan ruasan jari tangan. Adapun dzikir dalam jumlah banyak yang utama adalah dengan menggunakan tasbeh.
“Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepada kami :
ﻋﻠﻴﻜﻦ ﺑﺎﻟﺘﺴﺒﻴﺢ ﻭﺍﻟﺘﻬﻠﻴﻞ ﻭﺍﻟﺘﻘﺪﻳﺲ ﻭﺍﻋﻘﺪﻥ ﺑﺎﻷﻧﺎﻣﻞ ﻓﺈﻧﻬﻦ ﻣﺴﺌﻮﻻﺕ ﻣﺴﺘﻨﻄﻘﺎﺕ
Artinya : “Hendaklah kalian membaca tasbih, tahlil, dan taqdis, hitunglah dengan menggunakan jari karena jari-jari akan menjadi saksi yang bisa berbicara (hari kiamat kelak)
“Saya mendengar Shafiyah berkata : ” Suatu ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam masuk padaku sedangkan dihadapan saya ada 4000 biji kurma yang saya gunakan untuk berdzikir, Saya berkata : “Saya telah berdzikir dengan menggunakan ini semua”. Beliau lalu bersabda :
ﺃﻻ ﺃﻋﻠﻤﻚ ﺑﺄﻛﺜﺮ ﻣﻤﺎ ﺳﺒﺤﺖ ؟ ﻓﻘﻠﺖ : ﻋﻠﻤﻨﻲ . ﻓﻘﺎﻝ : ﻗﻮﻟﻲ ﺳﺒﺤﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺪﺩ ﺧﻠﻘﻪ
Artinya : “Maukah jika saya mengajarkanmu dzikir yang lebih banyak daripada apa yang engkau dzikirkan ? saya menjawab : “Tentu, ajarkanlah padaku”. Beliau bersabda : “bacalah : Subhaanallahi ‘adada kholqihi” (Maha Suci Allah sebanyak jumlah makhlukNya)”
Al-Fadhl bin Saazaan dalam Kitab ” ‘Addul AAyi wa Ar-Raka’aat fi Ash-Shalaah” meriwayatkan dari hadis AbdurRahman bin Al-Qasim dari ayahnya dari Aisyah radhiyallahu’anha, bahwasanya beliau dahulu menghitung rakaat shalatnya menggunakan cincin dengan cara memindahkannya dari tangan yang satu ketangan lainnya”. Sanad riwayat ini ; shahih.
Juga diriwayatkan dari hadis Abu Ma’syar dari Ibrahim An-Nakha’i, ia berkata : “Tidak mengapa menghitung jumlah rakaat shalat dengan cincin, serta menjaga hitungannya dengannya”.
CINCIN SUFI (15)
CINCIN SEORANG SUFI
Beberapa waktu yang lalu, di Mesir hidup seorang sufi yang masyhur bernama Zun-Nun. Seorang pemuda mendatanginya dan bertanya :
“Tuan, saya belum faham mengapa orang seperti anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di zaman yang ini berpakaian baik amat perlu, bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk tujuan banyak hal lain.” Sang sufi hanya tersenyum, ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata :
“Sahabat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Cubalah, bolehkah kamu menjualnya seharga satu keping emas”.
Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu dan berkata :
“Satu keping emas ?
Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu”.
“Cobalah dulu sahabat muda. Siapa tahu kamu berhasil”,
jawab Zun-Nun.
Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak.
Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali kepada Zun-Nun dan memberitahunya :
“Tuan, tak seorang pun yang berani menawar lebih dari satu keping perak”.
Sambil tetap tersenyum arif Zun-Nun berkata :
“Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga. Dengarkan saja, bagaimana ia memberikan penilaian”.
Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian memberitahu :
“Tuan, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar”.
Zun-Nun tersenyum simpul sambil berkata :
“Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sahabat muda. Seseorang tak boleh dinilai dari pakaiannya. Hanya “para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar” yang menilai demikian. Namun tidak bagi “pedagang emas”. Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya dapat dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu perlu proses dan masa, wahai sahabat mudaku. Kita tak dapat menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas.”
Semoga kita bisa mengambil ibroh dari membaca cerita ini
Waallohua’lam



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot